Gejala Perilaku masa remaja adalah masa transisi yang penuh dengan perubahan. Setiap remaja mengalami masa remaja dengan cara yang berbeda.Orang tua dan orang dewasa lainnya harus memahami dan mendukung remaja selama masa ini.
Gejala Perilaku Remaja berdasarkan tinjauan psikologi pendidikan mengalami beberapa perubahan sebagai berikut:
Perubahan Emosi, Emosi yang mudah berubah, mudah marah, sensitif, dan labil.
Keinginan Merdeka, Ingin bebas dari kontrol orang tua dan ingin mandiri.
Minat Sosial, Meningkatnya minat terhadap teman sebaya dan hubungan romantis.
Pencarian Identitas Diri, Mulai mencari jati diri dan ingin tahu siapa diri mereka sebenarnya.
Perilaku Berisiko, Cenderung mencoba hal-hal baru, termasuk perilaku berisiko seperti merokok, minum alkohol, dan penggunaan narkoba.
Pertumbuhan Jasmani Remaja
Perubahan Fisik yang Cepat, Terjadi pertumbuhan fisik yang cepat, termasuk tinggi badan, berat badan, dan perubahan suara.
Perkembangan Seksual, Munculnya ciri-ciri seksual sekunder, seperti menstruasi pada wanita dan mimpi basah pada pria.
Perubahan Bentuk Tubuh, Bentuk tubuh mulai berubah menjadi lebih dewasa.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masa Remaja:
Faktor Biologis, Faktor genetik, hormon, dan kesehatan fisik.
Faktor Psikologis, Kecerdasan, kepribadian, dan pengalaman masa kecil.
Faktor Sosial, Keluarga, teman sebaya, sekolah, dan budaya.
Era 4.0, sudah dimulai, ditandai dengan revolusi industri berbasis teknologi digital yang membawa banyak perubahan dalam aspek kehidupan, termasuk pada perilaku remaja. Beberapa gejala perilaku remaja di era 4.0 yang dapat diamati seperti:
1. Kecanduan Gadget dan Internet
Remaja di era 4.0 cenderung berlebihan dalam penggunaan smartphone, ketergantungan pada media sosial, atau game online, gangguan pada aktivitas atau produktivitas, serta gangguan pola tidur dan keseharian akibat keseringan menatap layar smarrtphone yang tinggi.
2. Komunikasi Didominasi Digital
Remaja saat ini lebih memilih untuk berkomunikasi melalui chat, media sosial, dan platform digital daripada berinteraksi secara langsung. Interaksi tatap muka secara langsung semakin berkurang yang menyebabkan keterampilan sosial seperti empati, simpati dan komunikasi verbal bisa terhambat.
3. Tren Konsumtif
Mudah terpengaruh tren yang sedang viral di media sosial seperti fashion, lifestyle, atau produk teknologi. Mereka sering kali membelanjakan uang untuk barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan tetapi sekedar mengikuti tren.
4. Tergantung pada Informasi Instan
Kebiasaan mencari informasi yang cepat dan singkat sering melalui TikTok, Instagram, Facebook atau Google. Mereka kurang tertarik untuk menelusuri informasi yang lebih rinci atau kompleks dan bahkan mengabaikan keakuratan informasi. Lebih fatal lagi, jika informasi yang belum tentu kebenarannya ternyata sudah di-share ke akun medsosnya.
5. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out)
Istilah FOMO atau Takut ketinggalan informasi terbaru, tren, atau aktivitas teman-teman di media sosial cenderung menguasai pemikiran mereka. Kecenderungan selalu online itu semata-mata agar tidak merasa "tertinggal" dengan kawan-kawannya, bukan untuk meningkatkan produktivitas pribadinya.
6. Identitas Digital yang Berbeda
Remaja sering membangun identitas di dunia maya yang berbeda dari dunia nyata (seperti di Instagram, TikTok, atau platform game online). Obsesi terhadap citra yang sempurna (terlihat keren, kaya, atau populer) melalui postingan.
7. Pengaruh Kesehatan Mental
Cyberbullying atau perundungan di media sosial menyebabkan gangguan mental seperti kecemasan dan depresi. Adanya perasaan rendah diri akibat membandingkan kehidupan dengan postingan teman atau influencer.
8. Kreativitas yang Meningkat
Di sisi positif, teknologi membuka peluang remaja untuk lebih kreatif, misalnya menjadi konten kreator, seleb medsos, atau entrepreneur muda. Semakin banyak remaja yang produktif dengan menggunakan teknologi, seperti membuat karya digital atau aplikasi.
9. Kurangnya Aktivitas Fisik
Lebih banyak waktu dihabiskan di depan layar dibandingkan dengan melakukan aktivitas fisik. Mereka kurang berminat terhadap kegiatan di luar ruangan atau olahraga. Kurangnya kegiatan fisik bisa mengakibatkan obesitas yang tidak direkomendasikan oleh ahli kesehatan.
10. Kecenderungan Multitasking
Remaja sering melakukan banyak hal sekaligus seperti belajar sambil mendengarkan musik dan chatting. Namun, multitasking seringkali mengurangi fokus dan produktivitas karya mereka.
Solusi Mengatasi Gejala Negatif
Untuk mengatasi perilaku negatif remaja di era 4.0, beberapa langkah penting yang dapat diambil antara lain: mendorong literasi digital agar remaja bijak menggunakan teknologi, memberikan pemahaman tentang kesehatan mental dan pentingnya keseimbangan hidup, membangun komunikasi antara orang tua dan remaja untuk memahami kebutuhan dan tantangan mereka, dan mengarahkan potensi remaja ke aktivitas kreatif dan produktif yang positif.
0 komentar:
Post a Comment