KISAH RABI'AH AL-ADAWIYAH, BIOGRAFI DAN AJARANNYA

Selamat membaca kisah tentang Rabi'ah al Adawiyah beserta biografi dan ajarannya dari Taman Baca Virtual.


Rabi'ah al-Adawiyah mempunyai nama lengkap Rabi'ah binti Ismail al-Adawiyah al-Baá¹£hriyah. Ia lahir di Bashrah pada tahun 95 H. Ia diberi nama Rabi'ah karena merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Ia dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin tetapi sangat bersahaja. Nama ayahnya adalah Ismail.

Dalam keadaan ekonomi keluarga Ismail yang sangat terbatas, tepatnya ketika malam menjelang kelahiran Rabi'ah ia tidak memiliki uang untuk penerangan di rumahnya. Tetapi ia tetap menemani istrinya yang akan melahirkan Rabi'ah. Namun beberapa hari setelah kelahiran Rabi'ah, Ismail bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya, Nabi berpesan kepada Ismail agar jangan bersedih hati karena Rabi'ah, anaknya itu akan menjadi seorang wanita yang mulia, sehingga banyak orang akan mengharapkan syafaatnya.

Memang, sejak masa kanak-kanaknya Rabi'ah alAdawiyah telah mampu menghafal al-Quran. Ia juga sangat kuat beribadah. Cara hidupnya sederhana. Gemar berbuat kebaikan untuk dirinya dan menebarkan kebaikan kepada orang-orang disekitarnya. Karena itu kelak ia juga digelari Umm al-Khair.

Bibit-bibit kebaikan dalam dirinya terus membesarkannya sehingga menjadi sosok wanita mulia dan disegani banyak orang. Sesuai kodratnya sebagai wanita, ia juga berhati lembut dan penuh kasih sayang. Rasa estetikanya yang tajam mampu menembus berbagai hakikat situasi yang ia jumpai pada masa itu. Sehingga ia dikenal sebagai sosok pecinta sejati dan bahkan mengajarkan tharikat kecintaan yang tulus kepada Allah Tuhannya.

Ajaran pokok dari Rabi'ah al-Adawiyah adalah Al-Mahabbah. Ia merupakan orang pertama yang mengajarkan Al-Mahabbah dengan maksud dan pengertian al-hubb sebagaimana ajaran khas tasawuf di kalangan sufi. Ia pun dikenal sebagai sufi wanita yang mumpuni.

Cinta murninya kepada Allah sekaligus ajarannya dalam tasawuf seringkali dituangkan kedalam syair-syair atau kalimat-kalimat puitis. Berikut ini salah satu syair Rabi'ah al-Adawiyah yang dikenal sampai saat ini:

"Kasihku, hanya Engkau yang kucinta, Pintu hatiku telah tertutup bagi selain-Engkau, Walau mata jasadku tak mampu melihat Engkau, Namun mata hatiku memandang-Engkau, selalu."

“Cintaku kepada Allah telah menutup hatiku untuk mencintai selain Dia”.

Sewaktu ia ditanyai tentang cintanya kepada Rasulullah saw, ia menjawab:

“Sebenarnya aku sangat mencintai Rasulullah, namun kecintaanku pada al-Khaliq telah melupakanku untuk mencintai siapa saja selain Dia”.

“Daku tenggelam dalam merenung kekasih jiwa, Sirna segalanya selain Dia, Karena kekasih, sirna rasa benci dan murka”.

Para ulama tasawuf memandang Rabi'ah sebagai tonggak penting perkembangan tasawuf dari fase dominasi emosi takut kepada Allah Swt menuju fase dominasi atau mengembangkan emosi cinta yang maksimal kepada-Nya. Tingkat kehidupan zuhud yang diajarkan sebelumnya oleh Hasan al-Bashri sebagai ketakutan dan pengharapan kepada Allah Swt, telah dinaikkan maknanya oleh Rabi'ah al-Adawiyah sebagai zuhud karena cinta kepada Allah Swt.

Rabi'ah al-Adawiyah telah membuka jalan alternatif berma'rifat kepada Allah swt, sehingga ia menjadi teladan bagi para cendikiawan muslim, seperti Sufyan ath-Thawri, Rabah bin Amr al-Qaysi, dan Malik bin Dinar. Ajaran-ajaran Rabi'ah al-Adawiyah tentang tasawuf dan sumbangannya terhadap perkembangan sufisme diakui sangat bernilai tinggi.

Sebagai seorang guru dan penuntun kehidupan sufistik, Rabi'ah banyak dijadikan panutan oleh para sufi. Secara praktis penulis-penulis besar di kalangan sufi selalu membicarakan ajaran Rabi'ah al-Adawiyah dan mengutip syair-syairnya sebagai seorang ahli tertinggi. Di antara mereka adalah Abu Thalib al-Makki, As-Suhrawandi, dan theolog muslim, Al-Ghazali yang mengacu pada ajaran-ajaran Rabi'ah al-Adawiyah dalam konteks sufisme.
Bagikan:

0 komentar:

ARSIP BULANAN

PEMBACA TBv

PEMBACA ONLINE